Perubahan Wajah BI Jambi: Antara Kehilangan Nilai Historis dan Tuntutan Modernisasi

Jambiku.com, Jambi – Proses pembangunan gedung baru Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jambi resmi memasuki tahap awal. Sejak Senin, 9 Maret 2026, bangunan lama yang selama ini berdiri di kawasan Simpang IV Telanaipura mulai dibongkar secara bertahap oleh pihak kontraktor.

 

Bacaan Lainnya

Perobohan tersebut menandai berakhirnya masa pengabdian gedung lama yang selama ini tidak hanya berfungsi sebagai pusat aktivitas perbankan, tetapi juga menjadi salah satu ikon kawasan Telanaipura. Secara visual dan historis, bangunan ini memiliki nilai simbolik bagi masyarakat Jambi, sehingga proses pembongkarannya memunculkan beragam respons, terutama dari kalangan yang menilai pentingnya pelestarian jejak arsitektur lama.

 

Namun demikian, dari perspektif pengembangan institusi, langkah ini dipandang sebagai bagian dari upaya modernisasi. Pembangunan gedung baru diyakini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas layanan, efisiensi operasional, serta menyesuaikan kebutuhan infrastruktur dengan dinamika sistem keuangan yang terus berkembang. Transformasi fisik ini mencerminkan dorongan Bank Indonesia dalam memperkuat peran strategisnya di daerah.

 

Di sisi lain, selama proses pembangunan berlangsung, operasional Kantor Perwakilan BI Jambi tetap berjalan normal. Untuk sementara waktu, layanan dipindahkan ke lokasi baru di Jalan Pangeran Diponegoro No.20, Kelurahan Talang Jauh, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi. Relokasi ini dilakukan guna memastikan pelayanan kepada masyarakat dan pemangku kepentingan tetap terjaga tanpa gangguan berarti.

 

Hingga saat ini, belum terdapat informasi resmi yang lebih rinci terkait desain akhir maupun total anggaran pembangunan gedung baru tersebut. Namun, proyek ini diperkirakan akan menelan biaya hingga puluhan miliar rupiah.

 

Secara keseluruhan, pembangunan gedung baru ini menghadirkan dua sisi yang kontras: antara kebutuhan modernisasi institusi dan hilangnya salah satu penanda historis kawasan. Ke depan, tantangan bagi pemangku kebijakan adalah memastikan bahwa transformasi ini tidak hanya berorientasi pada fungsi, tetapi juga tetap mempertimbangkan nilai historis dan identitas ruang kota. (Eros)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *