Menuju Puncak Akademik: Prof. Rike Raih Gelar Guru Besar UNJA tekad dan semangat yang kuat

Jambiku.com || MENDALO || – Nuansa akademik di Balairung Pinang Masak, Mendalo, menghangat ketika Universitas Jambi (UNJA) secara resmi mengukuhkan Prof. Dr. Rike Setiawati, S.E., M.M. sebagai Guru Besar dalam bidang Ilmu Manajemen Keuangan, Senin (9/2/2026). Pengukuhan ini menandai puncak perjalanan panjang seorang akademisi yang tumbuh dari nilai-nilai kesederhanaan dan kerja keras serta tekad yang kuat.

Prof. Rike lahir di Jambi, 3 April 1962. Ia merupakan putri dari pasangan Sutiem Binti Setro Semito (almh) dan William Siem Lamsang bin Simsu (alm), yang lahir di Paramaribo, Suriname, Amerika Selatan. Sebagai anak ketujuh dari sepuluh bersaudara, ia dibesarkan dalam keluarga wirausaha yang menanamkan prinsip kejujuran, kerendahan hati, dan etos kerja tinggi.

Bacaan Lainnya

Kisah keluarganya sarat perjuangan. Orang tuanya menempuh perjalanan laut selama tiga bulan dari Amerika Selatan hingga berlabuh di Teluk Bayur sebelum akhirnya menetap di Jambi. Dari satu unit mobil, sang ayah merintis usaha transportasi hingga berkembang. Meski usaha membesar, nilai empati tak pernah luntur—ia tetap menyetir sendiri dan bahkan membantu penumpang yang kesulitan membayar ongkos.

Jejak pendidikan Prof. Rike dimulai dari SD Xaverius Kota Jambi, berlanjut ke SMP Negeri 1 Teladan Jambi dan SMA Negeri 1 Kota Jambi. Ia menyelesaikan studi Sarjana di Fakultas Ekonomi UNJA pada 1988, kemudian meraih gelar Magister Manajemen pada 2003. Semangat akademiknya terus menyala hingga ia menuntaskan program doktor di Universitas Padjadjaran pada 31 Oktober 2018, dengan konsentrasi Ilmu Manajemen Keuangan.

Sejak 1 Februari 1989, Prof. Rike mengabdikan diri sebagai dosen di Fakultas Ekonomi UNJA. Ia telah mengajar di berbagai jenjang, mulai dari S-1 hingga S-3. Perjalanan akademiknya bukan tanpa ujian. Saat menempuh studi doktoral di Bandung, ia harus berjauhan dari keluarga.

  • Tantangan terberat saat S-3 adalah meninggalkan keluarga di Jambi. Pernah suami saya sakit dan saya harus pulang mendadak. Dua hari kemudian saya sendiri ikut dirawat. Itu perjuangan yang sangat berkesan. Tapi jangan pernah takut menempuh S-3. Semua tantangan pasti ada solusinya,” ungkapnya.

Baginya, keluarga dan mahasiswa adalah sumber energi utama. Ia ingin membuktikan bahwa pendidikan tak dibatasi usia. Namun, ia menegaskan bahwa kecerdasan intelektual harus berjalan seiring dengan pembentukan karakter.

  • Ilmu itu penting, tetapi akhlak lebih tinggi dari ilmu. Jika akhlak baik dan ilmu juga baik, maka semuanya akan berjalan dalam tatanan terbaik,” tegasnya.

Sebagai Guru Besar, Prof. Rike memandang jabatan tersebut bukan sekadar capaian personal, melainkan tanggung jawab strategis bagi institusi dan bangsa. Ia berharap riset-riset para guru besar tidak berhenti di ruang akademik, melainkan diimplementasikan untuk memperkuat daya saing universitas.

  • Guru besar adalah aset universitas dan bangsa. Riset yang dihasilkan harus membangun kolaborasi dan mendorong kemajuan institusi. Universitas perlu memberi perhatian serius agar hasil penelitian dosen dapat diimplementasikan secara nyata,” ujarnya.

Kepada mahasiswa, ia berpesan agar tidak cepat puas. Pendidikan, menurutnya, adalah investasi jangka panjang.

  • Jangan berhenti di S-1. Lanjutkan ke S-2 dan S-3. Ilmu akan selalu memberi manfaat, baik di dunia kerja, usaha, maupun kehidupan bermasyarakat,” pesannya.

Dengan ketekunan, doa, dan nilai integritas yang diwariskan orang tua, Prof. Dr. Rike Setiawati kini resmi menyandang gelar Guru Besar. Dedikasinya di bidang Manajemen Keuangan—termasuk penguatan literasi keuangan Islam—diharapkan menjadi kontribusi nyata bagi pengembangan ilmu pengetahuan serta kemajuan UNJA dan masyarakat luas.(**)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *