Perumda Tirta Mayang Sesuaikan Produksi Air Bersih, Kekeruhan Batanghari Tembus 4.500 NTU, pelanggan diharap bersabar dan memaklumi.

Jambiku.com, JAMBI — Kondisi Sungai Batanghari kembali menjadi perhatian Perumda Tirta Mayang Kota Jambi. Setelah sebelumnya menghadapi penurunan debit akibat kekeringan, perusahaan kini dihadapkan pada persoalan lain berupa meningkatnya kekeruhan air baku yang dalam beberapa hari terakhir sempat menembus 4.500 NTU.

Kondisi tersebut disampaikan Direktur Utama Perumda Tirta Mayang Kota Jambi, Arianto, saat meninjau Intake Pulau Pandan bersama jajaran manajemen dan awak media, Kamis (1/10/2026).

Arianto menjelaskan, perubahan kondisi Sungai Batanghari berlangsung cukup dinamis. Beberapa waktu lalu, persoalan utama berada pada rendahnya permukaan air sungai. Bahkan, tinggi muka air sempat berada di kisaran 60 sentimeter, sementara sistem pompa membutuhkan ketinggian air minimal sekitar satu meter agar dapat beroperasi secara optimal.

“Beberapa hari yang lalu tinggi air sungai bahkan sampai 60 sentimeter. Sementara pompa kami bisa beroperasi kalau tinggi air di atas satu meter atau 100 sentimeter,” ujar Arianto.

Menghadapi kondisi tersebut, Tirta Mayang melakukan sejumlah langkah teknis, salah satunya memperpanjang pipa sadap pada area intake. Langkah ini dilakukan untuk memperluas kemampuan pengambilan air baku ketika permukaan Sungai Batanghari berada pada kondisi rendah.

Perusahaan juga menyiapkan floating pump atau pompa terapung yang dapat mengikuti perubahan permukaan air sungai. Menurut Arianto, pompa tersebut masih dalam proses pengiriman dan ditargetkan tiba pada pekan depan.

Namun, ketika persoalan debit air mulai membaik, tantangan baru justru muncul. Hujan yang terjadi di wilayah hulu menyebabkan debit Sungai Batanghari meningkat, tetapi pada saat yang sama membawa material sedimentasi sehingga tingkat kekeruhan air baku melonjak tajam.

“Tinggi air yang sebelumnya 60 sentimeter sekarang sudah 230 sentimeter, bahkan kemarin mencapai 250 sampai 300 sentimeter. Untuk tinggi air, ini kabar baik bagi kami. Tetapi kekeruhannya semakin meningkat,” jelasnya.

Kekeruhan Melonjak Berkali-kali Lipat

Arianto menyebut tingkat kekeruhan yang masih berada dalam kisaran normal untuk proses pengolahan berada di sekitar 200 hingga 250 NTU. Namun, dalam beberapa hari terakhir, angka tersebut melonjak drastis hingga mencapai sekitar 4.500 NTU.

“Kemarin dalam beberapa hari terus meningkat hingga 4.500 NTU. Itu sudah berkali-kali lipat dan mungkin pertama dalam sejarah sejak berdirinya Tirta Mayang,” ungkapnya.

Tingginya kekeruhan membuat Tirta Mayang harus melakukan penyesuaian terhadap kapasitas produksi di sejumlah instalasi pengolahan air. Pengurangan debit produksi dilakukan agar proses pengolahan tetap dapat berlangsung sekaligus menjaga kualitas air yang didistribusikan kepada masyarakat.

Arianto merinci, penyesuaian produksi mencapai sekitar 30 persen pada pelayanan IPA Tanjung Sari, 20 persen di IPA Broni kawasan Pulau Pandan, serta sekitar 5 persen di wilayah Benteng.

“Untuk mengatasi ini kami mengurangi produksi. Beberapa hari kemarin pengurangan produksi cukup signifikan, 30 persen dan 20 persen,” katanya.

Penurunan produksi tersebut paling dirasakan di wilayah pelayanan IPA Tanjung Sari dan IPA Broni. Untuk wilayah Tanjung Sari, jumlah pelanggan yang berpotensi terdampak mencapai sekitar 8.000 sambungan. Sementara IPA Broni melayani sekitar 25.000 hingga 30.000 pelanggan.

Distribusi Air Tangki Disiapkan

Meski produksi harus disesuaikan, Tirta Mayang memastikan berbagai upaya dilakukan agar pelayanan kepada masyarakat tidak sampai terhenti sepenuhnya.

Bagi wilayah yang mengalami keterbatasan pasokan, perusahaan menyiapkan distribusi air bersih menggunakan armada tangki. Dukungan juga datang dari sejumlah instansi, di antaranya Dinas Pemadam Kebakaran, TNI dan PMI.

“Kami sudah melaporkan kepada pemerintah terkait kondisi ini dan berupaya bagaimana pelayanan jangan sampai berhenti. Namun, dengan kondisi produksi yang berkurang 20 persen, tentu ada pelanggan yang terdampak,” jelas Arianto.

Ia mengatakan, keterbatasan jumlah armada membuat distribusi air tangki harus dilakukan berdasarkan antrean dan kebutuhan di lapangan.

“Armada kami saat ini untuk memberikan pelayanan hanya beberapa unit. Kami juga dibantu Damkar, TNI dan PMI. Namun kami tidak bisa memenuhi semuanya secara langsung karena antrean,” ujarnya.

Gangguan pasokan terutama berpotensi dirasakan pelanggan yang berada di wilayah paling ujung jaringan. Penurunan volume produksi secara otomatis berpengaruh terhadap tekanan air sehingga aliran tidak selalu mampu mencapai kawasan ujung jaringan.

“Kalau debit kita 100 persen, daerah ujung bisa terlayani dengan tekanan dan debit tertentu. Tetapi dengan adanya pengurangan debit, tekanan dan volume juga berkurang sehingga tidak sampai ke pelanggan di ujung,” katanya.

Sejumlah kawasan seperti Kenali Asam Atas, wilayah ujung Mayang, serta beberapa area lain yang berada di ujung jaringan disebut berpotensi mengalami gangguan aliran.

Pemakaian Bahan Kimia Ditambah

Di tengah tingginya kekeruhan air baku, Tirta Mayang juga meningkatkan penggunaan bahan kimia untuk mendukung proses pengolahan. Kebutuhannya disebut meningkat lebih dari 10 persen dibandingkan kondisi normal.

Namun, peningkatan penggunaan bahan kimia tidak serta-merta membuat seluruh air baku dengan tingkat kekeruhan ekstrem dapat diolah. Kapasitas instalasi tetap memiliki batas kemampuan dalam menerima air baku dengan tingkat kekeruhan sangat tinggi.

“Kalau IPA kita hanya bisa lolos 200 NTU, kalau lebih dari itu mereka tidak bisa memproses lagi. Air yang masuk akhirnya terbuang. Kita sudah memasukkan bahan kimia, tetapi kalau tidak bisa mengolahnya dengan baik, percuma memasukkan air banyak-banyak,” jelas Arianto.

Kondisi terbaru menunjukkan tingkat kekeruhan mulai turun dari sebelumnya sekitar 4.500 NTU menjadi kurang lebih 2.500 NTU. Meski demikian, angkanya masih berubah-ubah dan kembali meningkat pada malam hari.

Menurut Arianto, kondisi tersebut diduga berkaitan dengan hujan yang terjadi di kawasan hulu Sungai Batanghari.

Saat sungai mengalami penyusutan debit, material sedimentasi dapat mengendap di sejumlah bagian badan sungai. Ketika hujan turun dan debit meningkat, material tersebut berpotensi kembali terbawa arus menuju wilayah hilir.

“Kalau menurut kajian kami, kemungkinan diakibatkan hujan di hulu. Saat sungai surut, ada daerah-daerah yang mengalami sedimentasi. Ketika hujan dan air naik, sedimentasi itu kemungkinan terbawa kembali ke hilir sehingga kekeruhan meningkat,” terangnya.

Antisipasi Kondisi Cuaca

Menghadapi perubahan kondisi cuaca, Tirta Mayang juga telah melakukan koordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Berdasarkan informasi yang diterima perusahaan, curah hujan diperkirakan mulai lebih sering terjadi pada pertengahan Oktober.

Namun, kondisi yang terjadi saat ini menunjukkan bahwa hujan di wilayah hulu sudah cukup memberikan pengaruh terhadap perubahan debit sekaligus tingkat kekeruhan air baku Sungai Batanghari.

Karena itu, Tirta Mayang mengimbau masyarakat untuk memahami kondisi operasional yang tengah dihadapi serta menggunakan air secara bijak selama penyesuaian produksi berlangsung.

“Kami mohon masyarakat memahami kondisi armada kami. Kami mempersilahkan pelanggan membutuhkan air dan ingin mengambil langsung ke PDAM, apabila membutuhkan pengantaran dan armada, kami akan berupaya mengantar, dan juga kami harap pelanggan bersabar dan memaklumi dikarenakan keterbatasan armada yang tersedia dan banyaknya permintaan,” pungkasnya. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *