Jambiku.com, MUARO JAMBI – Aksi masyarakat yang menuntut perbaikan ruas jalan KM 36-40 di Desa Tanjung Pauh, Kecamatan Mestong, Kabupaten Muaro Jambi, semakin membesar. Memasuki hari kedua sejak dimulai pada Jumat (3/7) malam, gelombang dukungan dari berbagai kalangan masyarakat terus berdatangan hingga membuat lokasi aksi dipenuhi ribuan orang.
Lautan massa yang memadati titik aksi menjadi bukti bahwa persoalan jalan rusak yang selama ini dikeluhkan warga telah mencapai puncak kesabaran. Mereka datang tidak hanya untuk menunjukkan solidaritas, tetapi juga menyuarakan tuntutan agar perusahaan yang menggunakan jalur tersebut bersama instansi terkait segera mengambil langkah nyata memperbaiki jalan yang selama bertahun-tahun menjadi urat nadi aktivitas masyarakat.
Di lokasi, suasana tampak semakin padat dari jam ke jam. Warga dari berbagai desa sekitar silih berganti berdatangan untuk bergabung dalam aksi. Mereka sepakat bahwa perjuangan tidak akan dihentikan sebelum ada kepastian yang jelas mengenai perbaikan jalan.
Salah seorang warga, M, menegaskan bahwa aksi tersebut akan terus berlangsung hingga tuntutan masyarakat dipenuhi.
“Aksi ini akan terus berjalan sampai ada kepastian, baik dari perusahaan maupun instansi terkait, untuk memperbaiki jalan yang menjadi akses utama masyarakat dalam menjalankan aktivitas sehari-hari,” tegasnya.
Menurut warga, kerusakan jalan bukan lagi sekadar persoalan infrastruktur, melainkan telah berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat. Aktivitas ekonomi, pendidikan, hingga mobilitas warga sehari-hari terganggu akibat kondisi jalan yang rusak parah dan diduga semakin memburuk karena tingginya intensitas kendaraan bertonase berat yang melintas.
Meningkatnya jumlah massa yang terus memadati lokasi aksi menjadi sinyal kuat bahwa kesabaran masyarakat telah berada di titik akhir. Mereka menilai, berbagai keluhan dan aspirasi yang selama ini disampaikan belum mendapat penyelesaian yang benar-benar dirasakan masyarakat.
Akibat aksi yang masih berlangsung, arus lalu lintas di ruas KM 36-40 dilaporkan lumpuh total. Sejumlah kendaraan terpaksa berhenti dan mengantre panjang, sementara warga tetap bertahan di lokasi dengan harapan ada perwakilan perusahaan maupun pemerintah yang datang membawa solusi konkret.
Hingga berita ini diterbitkan, masyarakat masih bertahan di lokasi aksi. Mereka menegaskan tidak akan membubarkan diri sebelum ada komitmen yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan terkait perbaikan jalan yang selama ini menjadi akses utama ribuan warga.
Kini, perhatian publik tertuju pada langkah yang akan diambil pemerintah daerah, perusahaan, dan instansi terkait. Jika tidak segera direspons, aksi yang terus membesar dikhawatirkan dapat memicu dampak yang lebih luas terhadap aktivitas masyarakat maupun arus distribusi di wilayah tersebut. (Eros)





