Jambiku.com || Mendalo ||–Suasana haru menyelimuti prosesi pengukuhan Guru Besar Universitas Jambi saat nama Prof. Dr. Drs. Harizon, M.Si dikukuhkan secara anumerta. Bukan sorak kebanggaan yang mendominasi, melainkan mata berkaca dan isak tertahan dari keluarga yang mewakili kehadiran sang profesor—sebuah momen sunyi yang sarat makna dan pengabdian.
Toga kebesaran guru besar yang terbentang di hadapan keluarga seakan menjadi saksi bisu perjalanan panjang almarhum. Perjuangan menggapai puncak akademik itu akhirnya tercapai, meski tak sempat dinikmati secara langsung oleh beliau. Namun justru di sanalah nilai luhur itu bersemayam: semangat juang yang tak pernah padam, bahkan ketika usia dan waktu membatasi raga.
Selama 34 tahun, almarhum Prof. Harizon mendedikasikan hidupnya bagi Tri Dharma Perguruan Tinggi—mengabdi tanpa pamrih melalui pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Jejak pengabdiannya terpatri kuat dalam dunia pendidikan, menjadi warisan intelektual yang tak lekang oleh waktu.
Almarhum meninggalkan seorang istri tercinta, Bonet Amran, S.Pd, dua orang putra, M. Ilham Khalid, S.T dan M. Havis Khalid, S.E, serta seorang menantu, Juni Amelia Sari, S.M. Dengan langkah tertahan dan hati bergetar, merekalah yang menerima amanah kehormatan tersebut atas nama keluarga.
Puncak emosi terjadi saat Rektor Universitas Jambi, Prof. Dr. Helmi, S.H., M.H., secara langsung menyerahkan atribut Guru Besar kepada keluarga almarhum. Tatapan penuh empati dan keheningan yang menyelimuti ruangan menegaskan bahwa momen ini bukan sekadar seremoni, melainkan penghormatan terakhir bagi seorang pejuang ilmu.
Pengukuhan ini menjadi penanda bahwa dedikasi sejati tak pernah berakhir bersama kepergian. Nama Prof. Dr. Drs. Harizon, M.Si akan terus hidup—dalam ilmu, nilai, dan inspirasi bagi generasi akademisi yang melanjutkan estafet pengabdian. (Eros)





